nubatik.org – PEKALONGAN – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah sukses menggelar Forum Kader NU ke-4 dengan tema “Memperteguh Gerakan, Memperkuat Perkhidmatan.” Forum ini diselenggarakan di Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan pada Sabtu Malam, 15 November 2025.
Acara strategis ini secara khusus dihadiri oleh seluruh pengurus Lakpesdam dari berbagai Cabang se-Jawa Tengah, bersama dengan pengurus Tanfidziyah, Syuriah, lembaga, dan Banom PWNU Jateng lainnya, menjadikannya pertemuan penting untuk konsolidasi intelektual organisasi.
Seruan Ro’is Syuriah: Dorong NU Progresif dan Terbuka
Puncak acara ini ditandai dengan Dawuh (nasihat/arahan) dari Ro’is Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Ubaidillah Shodaqoh. Dalam arahannya, Mbah Yai Ubaidillah menyampaikan sejumlah pesan kunci yang menekankan pentingnya peran Lakpesdam sebagai motor penggerak NU yang lebih progresif dan inovatif.
“Lakpesdam dibentuk untuk membantu NU menjadi lebih progresif dan inovatif,” tegas Mbah Yai Ubaidillah Shodaqoh. Beliau juga menegaskan keterkaitan erat antara kiprah NU dengan kondisi bangsa: “Jika NU dapat berperan dengan baik, maka kehidupan bernegara juga akan baik.”
Tantangan Intelektual Kader dan Mandat Penelitian
Mbah Yai Ubaidillah menyoroti sebuah tantangan inheren dalam kaderisasi NU: kader-kader NU yang lahir dari pondok pesantren seringkali “tidak terbiasa dengan tradisi penelitian.”
Untuk mengatasi kesenjangan ini, Lakpesdam diberikan mandat strategis dan spesifik:
Pendampingan Objektif: Lakpesdam harus terus mendampingi Pengurus NU agar mampu menyusun program secara tepat, sesuai kebutuhan, objektif, dan faktual—sebuah langkah yang memerlukan basis data dan penelitian yang kuat.
Merangkul Alumni Berbagai Disiplin: Seruan Keterbukaan
Lebih jauh, Ro’is Syuriah menyerukan pentingnya keterbukaan dan kebersatuan di tubuh kepengurusan NU, menanggapi keberagaman latar belakang kader saat ini.
“Pengurus NU harus terbuka, tidak boleh menutup diri. Harus dapat bersatu meskipun berasal dari alumni berbagai pesantren atau perguruan tinggi,” tegasnya.
Untuk memaksimalkan khidmah (pelayanan) NU kepada umat, Mbah Yai Ubaidillah memberikan dua solusi jangka panjang:
Muktamar Ilmu Pengetahuan: Event ini menjadi momentum vital untuk mempertemukan para kader intelektual NU dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai kampus, bertujuan menggali ide/gagasan yang dapat meningkatkan pelayanan NU.
Inventarisasi Kader Intelektual: Lakpesdam diberi tugas untuk menginventarisir kader-kader intelektual NU di berbagai bidang, dirangkul, disapa, dan berbagi tugas agar seluruh potensi dapat ber-khidmah sesuai bidangnya masing-masing.
Forum Kader ke-4 ini menegaskan kembali komitmen PWNU Jawa Tengah untuk bertransformasi menjadi organisasi yang digerakkan oleh riset, inovasi, dan kolaborasi antar-kader intelektual.
