PEKALONGAN, nubatik.org – Dalam rangkaian peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) versi Miladiah, PCNU Kota Pekalongan melalui Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU menggelar Halaqah Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Gedung Aswaja, Ahad (25/1/2026).
Forum halaqah ini menjadi alarm sekaligus ruang solusi atas meningkatnya kasus kekerasan serta tantangan pola asuh di era digital.

Ketua PC Muslimat NU Kota Pekalongan, Nur Hikmah, menegaskan bahwa halaqah ini bukan sekadar diskusi formalitas. Fokus utamanya adalah membekali kaum ibu agar adaptif terhadap perubahan teknologi yang memengaruhi psikologi anak.
“Peran ibu saat ini tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi pendamping psikologis. Kehadiran teknologi harus diimbangi dengan kedekatan emosional agar orang tua tidak tertinggal dari dunia anak-anak mereka,” ujar Nur Hikmah.
Tak hanya soal edukasi, Muslimat NU juga melakukan langkah nyata dengan membentuk struktur Paralegal. Kader ini telah mengikuti pelatihan resmi untuk mendampingi perempuan dan anak yang berhadapan dengan hukum.
“Kami ingin membuka akses keadilan yang seluas-luasnya bagi korban kekerasan melalui pendampingan hukum yang kompeten,” imbuhnya.

Ketua PCNU Kota Pekalongan, Dr. KH. Moch Machrus Lc., M.Si, dalam sambutannya menuturkan bahwa tujuan semua yang hadir pada kegiatan tersebut punya semangat yang sama yakni semangat perlindungan, semangat kemanusiaan, dan semangat mengakhiri kekerasan.
Dia memaparkan data yang cukup mencemaskan. Memasuki tahun 2026, tantangan perlindungan anak semakin kompleks, terutama dengan melonjaknya Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).
“Data menunjukkan KDRT masih menyumbang angka tertinggi, yakni di atas 60 persen. Mirisnya, rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungan, justru sering kali menjadi tempat penuh ancaman dengan pelaku orang terdekat,” ungkap Kiai Machrus.
Ia juga menyoroti tren peningkatan kasus perundungan (bullying) dan kekerasan yang mulai merambah lingkungan pendidikan, termasuk pesantren. Sepanjang tahun 2025, JPPI mencatat lonjakan kasus kekerasan di dunia pendidikan yang mencapai ratusan kasus.
“Ini menjadi peringatan keras. Kita harus memastikan lingkungan pendidikan, khususnya pesantren, bersih dari aksi bullying. Saya minta setelah seminar ini, ada sinergisitas konkret antara Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU dengan Kementerian PPPA,” tegasnya.

Halaqah Nasional ini menghadirkan narasumber dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), RMI PBNU, serta Anggota DPR RI, Hj. Hindun. Diskusi yang dipandu oleh Izzanah dari Semarang ini diikuti secara terbatas oleh perwakilan ranting dan kelurahan guna memastikan kedalaman dialog.
Melalui kegiatan yang menjadi rangkaian puncak Harlah 1 Abad NU Kota Pekalongan ini, diharapkan lahir rekomendasi kebijakan yang bisa langsung diterapkan di tingkat keluarga hingga komunitas masyarakat.
“Target kita adalah aksi nyata, bukan sekadar wacana. Perlindungan perempuan dan anak adalah investasi masa depan bangsa,” pungkas Kiai Machrus.

