Oleh: Dr. KH. Hasan Su’aidi, M.Si. (Rois Syuriyah PCNU Kota Pekalongan)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, alhamdulillah tahun ini kita telah memasuki bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah.
Dalam kesempatan baik ini, saya ingin mengutip penjelasan yang dikemukakan oleh asy-Syekh al-Allamah Izzuddin bin Abdissalam di dalam kitabnya Maqashidus Shoum.
Terkait dengan faedah puasa, Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengatakan:
لِلصَّوْمِ فَوَائِدُ: رَفْعُ الدَّرَجَاتِ، تَكْفِيْرُ الْخَطِيْئَاتِ، كَسْرُ الشَّهَوَاتِ، تَكْثِيْرُ الصَّدَقَاتِ، تَوْفِيْرُ الطَّاعَاتِ، شُكْرُ عَالِمِ الْخَفِيَّاتِ، الْإِنْزِجَارُ عَنْ خَوَاطِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ.
Paling tidak, ketika orang berpuasa maka dia akan mendapatkan derajat yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana derajat orang yang berpuasa akan dinaikkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ
Artinya: “Ketika datang bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan setan akan dibelenggu.”
Selain itu, seperti yang dijelaskan oleh Syekh Izzuddin bin Abdissalam, di samping derajat seorang mukmin yang melaksanakan ibadah puasa akan dinaikkan, selanjutnya adalah beliau Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengatakan termasuk dalam faedah orang berpuasa adalah:
تَخْصِيْصُ دُخُوْلِهِمُ الْجَنَّةَ بِبَابِ الرَّيَّانِ
Dengan berpuasa, maka orang akan dijanjikan akan masuk surga dengan pintu khusus yang dinamakan dengan Ar-Rayyan.
Oleh karena itu, secara khusus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan dengan adanya orang berpuasa mendapati pintu Ar-Rayyan ini, maka sudah selayaknya kita sebagai seorang mukmin untuk melaksanakan puasa dengan memenuhi segala syarat, rukun, juga adab-adabnya.
Selain itu, selanjutnya Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengatakan termasuk faedah daripada puasa adalah takfirul khathi-at.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan:
رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
Puasa yang satu, puasa Ramadan yang satu kepada puasa Ramadan berikutnya adalah sebagai penebus dosa-dosa yang ada di antara keduanya. Catatannya: idza’jtunibatil kaba-ir, ketika dosa-dosa itu, dosa-dosa besar dihindari selama kita melaksanakan ibadah puasa dan selama kita masuk pada puasa berikutnya.
Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa puasa itu mempunyai fungsi kasrus-shoum lisy-syahwat. Bahwasanya puasa itu dapat menghilangkan, puasa itu dapat memecah syahwat hayawaniyyah. Maka di dalam sebuah hadist diriwayatkan:
إنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوا مَسَالِكَهُ بِالْجُوعِ
(Sesungguhnya setan berjalan pada diri anak Adam melalui aliran darah, maka persempitlah jalannya dengan lapar).
Setan itu seperti yang dijelaskan di dalam hadist akan berjalan pada pribadi seorang anak Adam sebagaimana berjalannya darah pada tubuhnya. Perintah Rasulullah SAW untuk melawan bujukan-bujukan setan, beliau mengatakan: فَضَيِّقُوا مَسَالِكَهُ بِالْجُوعِ. Caranya adalah dengan kita lapar. Karena dengan lapar maka kita dapat mengendalikan diri kita.
Selain itu di antara faedah bulan puasa adalah taksirus-shodaqot, yaitu memperbanyak sedekah karena sesungguhnya menurut penjelasan Syekh Izzuddin bin Abdussalam:
إنَّ الصَّائِمَ إِذَا جَاعَ تَذَكَّرَ مَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْجُوعِ فَحَثَّهُ ذَلِكَ عَلَى إِطْعَامِ الْجَائِعِ
(Sesungguhnya orang yang berpuasa ketika ia lapar, ia teringat rasa lapar yang dialami orang lain, sehingga hal itu mendorongnya untuk memberi makan orang yang lapar).
Kalau kita melihat ini maka manfaat dari puasa tidak hanya untuk pribadi kita sendiri tapi bagaimana kemudian kita mempunyai kepedulian kepada sesama. Ketika kita merasakan lapar, maka paling tidak ada semacam perasaan bagi kita, ada semacam kesadaran bahwa bagaimana kita kemudian bersikap kepada orang-orang lapar lainnya.
Ketika puasa kita mulai semenjak kita sahur, ketika mulai semenjak imsak kita menahan lapar dan dahaga sampai Maghrib, paling tidak bisa menumbuhkan kesadaran kita akan kepedulian kita kepada sesama.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT, keutamaan daripada ibadah puasa adalah seperti yang difirmankan oleh Allah SWT di dalam ayat Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).
Inti daripada puasa itu adalah bagaimana akan menjadikan pribadi-pribadi mukmin adalah orang-orang yang bertakwa. Orang yang selalu dapat mengendalikan dirinya dalam arti berusaha untuk melakukan setiap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi larangan-larangannya.
Demikian, semoga kita bisa dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik sehingga kita dapat merengkuh fadhilah yang dijanjikan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW untuk membentuk pribadi-pribadi kita sebagai orang mukmin yang kafah.
Akhirul kalam, wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
