
Oleh: Dr. KH. M Machrus Abdullah, Lc., M.Si.
Ketua PCNU Kota Pekalongan
nubatik.org – Besok, Ahad, 16 November 2025, kami di Kota Pekalongan merasa terhormat menjadi tuan rumah
bagi pertemuan intelektual Nahdlatul Ulama Jawa Tengah melalui Muktamar Ilmu Pengetahuan III
PWNU. Tema yang diusung “Meneladani Pemikiran & Tindakan Gus Dur: Reaktualisasi Pemikiran
Keagamaan, Kemandirian Organisasi & Keadilan Ekologis” sesungguhnya bukan sekadar tema,
melainkan sebuah panggilan untuk kembali ke inti spiritual dan intelektual dari pergerakan kita.
Belakangan ini, apresiasi terhadap KH. Abdurrahman Wahid kian memuncak dengan
penganugerahan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Ini adalah penegasan luar biasa atas khidmah
beliau untuk umat dan bangsa. Namun, bagi kami di lingkungan NU, Gus Dur adalah mata air yang
tak pernah kering. Kehadiran beliau bukan hanya karena jabatan atau gelar, melainkan karena
kemapanan ilmu yang terinternalisasi secara utuh.
Humor sebagai Puncak Kecerdasan
Kerap kali kita lupa, bahwa pemikiran kritis Gus Dur lahir dari kedalaman ilmu. Hal ini
termanifestasi dalam kemampuan beliau untuk membahasakan kritik internal dengan humor yang
jenaka. Saya memiliki keyakinan kuat, hanya orang yang sangat cerdaslah yang mampu
menciptakan humor yang mengkritik sekaligus mendidik.
Ambil contoh kisah beliau tentang tata cara umat beragama memanggil Tuhan. Beliau pernah
berujar, “Orang Kristen memanggil Tuhannya dengan ‘Bapak’, orang Hindu memanggil dengan
‘Om’, sementara kaum Muslim memanggil dengan toa. Ironisnya, yang datang pun tidak lantas
penuh safnya.” Ini adalah kritik internal yang sangat cerdas. Beliau mengkritik ke dalam, agar kita
mawas diri terhadap performa keagamaan kita, tanpa harus menyakiti pihak luar. Ini adalah model
kritik yang harus kita warisi: tajam di dalam, damai di luar.
Inklusivitas: Lebih dari Sekadar Toleransi
Kedalaman ilmu Gus Dur juga melahirkan sikap yang tegas: inklusif. Sikap beliau dalam membuka
ruang bagi kalangan minoritas untuk bisa beribadah adalah torehan sejarah yang membuktikan
bahwa beliau memiliki tauhid yang kuat, tetapi tidak bersikap keras terhadap agama lain.
Gus Dur memilih bersikap lunak ke luar dan keras ke dalam melalui kritiknya. Sikap ini, bagi saya,
lebih tepat disebut inklusivitas—sebuah sikap yang mengakui keberadaan dan hak orang lain tanpa
mengorbankan keyakinan diri—daripada sekadar pluralitas. Inklusivitas lahir dari rasa aman (tidak
terancam) dan kematangan berpikir.
Ilmu sebagai Harta dan Perhiasan
Semua ciri khas Gus Dur — mulai dari humor, inklusivitas, hingga keberanian menentang
ketidakadilan (Keadilan Ekologis)—berangkat dari satu fondasi tunggal: ilmu. Ilmu beliau tidak
didapat secara instan, melainkan dari proses panjang dan mendalam.
Inilah yang menjadi tugas kita di Muktamar ini, sebagaimana ditegaskan dalam Sesi Plenary dan
Roundtable: bagaimana ilmu dapat menjadi landasan bagi Reaktualisasi Pemikiran Keagamaan,
Kemandirian Organisasi, dan Keadilan Ekologis. Kita harus menjadikannya pedoman dalam
merespons tantangan masa depan, mulai dari krisis lingkungan hingga disrupsi Artificial
Intelligence (AI).
Dalam konteks inilah, kita harus kembali pada pesan utama para ulama terdahulu. Saya teringat
satu nasehat bijak luar biasa yang dinukil oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab
beliau, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, sebuah adagium yang menegaskan betapa ilmu adalah
segalanya:
“Wajib atasmu mencari ilmu, karena jika engkau fakir, ia akan menjadi hartamu, dan jika engkau kaya, ia akan menjadi perhiasanmu.”
Ilmu, dengan demikian, adalah segalanya. Jika kita mampu menginternalisasi ilmu yang seluas Gus
Dur, kita akan mampu menghadapi segala bentuk kefakiran—baik kefakiran ekonomi, maupun
kefakiran moral dan spiritual—dan kita akan menjadi perhiasan bagi peradaban. Semoga Muktamar
Ilmu Pengetahuan III di Kota Pekalongan ini menjadi titik tolak bagi PWNU Jawa Tengah untuk
“Berkhidmat Bermartabat, Membangun Peradaban” yang diwariskan oleh ulama kita, khususnya
Gus Dur.
