Ramadan sebagai Madrasah Kehidupan

Spread the love

Oleh: Dr. K.H. Moch. Machrus Abdullah, Lc., M.Si., Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, kita memasuki bulan Ramadan. Di awal bulan Ramadan ini, kita persiapkan diri kita sebagai madrasah kehidupan kita dan sebagai riyadhah atau latihan untuk kehidupan kita sehari-hari pasca bulan Ramadan.

Seperti kita ketahui, awal bulan Ramadan—dalam hadis—awwaluhu rahmah, wa ausatuhu maghfirah, wa akhiruhu ‘itqun minan nar. Awal Ramadan, sepuluh hari pertama Ramadan itu menjadi rahmah. Marilah kita sambut awal bulan Ramadan ini, kita menjemput rahmah dari Allah sebagai madrasah kehidupan kita sehari-hari, sebagai latihan untuk kita melaksanakan kehidupan keberlanjutan setelah Ramadan.

Seperti kita ketahui, Ramadan menjadi salah satu rukun Islam di mana semua umat Islam diwajibkan untuk menjalankan bulan Ramadan, seperti disebutkan di Al-Qur’an dan hadis banyak sekali tentang kewajiban bulan Ramadan.

Untuk tema kali ini, saya akan membahas tentang madrasah Ramadan sebagai madrasah kehidupan. Kenapa kita sebut madrasah? Karena di situlah terbentuk hampir semua kehidupan kita. Namanya sekolah itu berarti mata pelajaran banyak, kuliah pun juga sama.

Bulan Ramadan ini menjadi satu madrasah, artinya di bulan Ramadan ini banyak yang harus kita persiapkan, banyak yang harus kita lakukan, dan banyak yang harus kita perbaiki dari diri kita.

Sebagai madrasah yang pertama, berarti banyak apa yang kita lakukan di bulan Ramadan ini terkait tentang bagaimana bisa menahan hawa nafsu, menahan lapar, menahan dahaga, bukan sekadar menjalankan ritual puasa saja.
Tetapi di situlah banyak, seperti di hadis disebutkan: banyak orang berpuasa di bulan Ramadan tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Artinya nilai-nilai atau esensi dari bulan Ramadan ini tidak mendapatkan, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Makanya penting, ketika kita memasuki bulan Ramadan ini, kita bersihkan diri kita. Namanya bulan Ramadan itu adalah 6, pembersihan badan dan menjauhkan dari setan. Tadi saya sebutkan di awal, sepuluh hari terakhir itu ‘itqun minan nar, dijauhkan dari api neraka, berarti dijauhkan dari ujian dan cobaan.

Nah, di bulan Ramadan, awal masuk Ramadan ini, ada beberapa yang perlu kita siapkan.

Yang pertama, bagaimana kita memosisikan diri dulu sebagai seorang hamba beribadah di bulan Ramadan ini, berarti mempersiapkan diri kita.

Yang kedua, pembersihan hati kita dulu, kita bersihkan, kita sucikan niat kita. Kita beribadah di bulan Ramadan ini sesuai dengan apa yang Allah harapkan, yaitu kita mengharapkan rida Allah semata, bukan karena yang lain.

Ini penting, aspek kognitif ini yang kita lakukan, memahami betul apa sih bulan Ramadan? Bukan sekadar kita berpuasa saja, tapi makna filosofi, dan nilai-nilai yang kita lakukan dalam bulan Ramadan itu kita dapatkan.

Yang kedua, aspek afektif. Aspek afektif ini berarti bagaimana kita melakukan bulan Ramadan ini, banyak kegiatan yang kita lakukan, termasuk melatih kesabaran, melatih keikhlasan, ya. Ibadah Ramadan ini kaitannya hanya diri kita dengan Allah Subhanahu wa taala.

Kita melatih dari bukan sekadar sabar ikhlas saja, melatih untuk melakukan dan mengatakan dan berbuatan apa pun itu dengan benar. Kalau yang lain selain Ramadan, kita bisa saja lakukan. Kalau Ramadan kita mau berbohong umpamanya, ya, itu orang lain enggak akan tahu, tapi yang tahu Allah.

Inilah pentingnya melatih kesadaran bahwa bulan Ramadan ini penting penampakan diri sebagai tazkiyatul badan, membersihkan diri, wa tazkiyatul qolbi, pembersihan hati. Inilah aspek afektif yang harus kita siapkan. Keikhlasan dalam melakukan ibadah bulan Ramadan ini menjadi penting, karena kalau kita melakukan sesuatu apalagi nih bulan Ramadan, ya, puasa dengan berat hati, kita akan berat sekali kita menjalankan.

Yang ketiga, aspek psikomotorik. Psikomotorik ini aspek yang terkait dengan fisik. Kita tahu bulan Ramadan, fisik dan jasmani kita, kita tahu bulan Ramadan itu kita diatur, kedisiplinan kita, makan sahurnya sudah ditentukan jamnya, buka puasa juga ditentukan jamnya, kemudian waktu makannya, jumlahnya juga ditentukan kaitan fisik, termasuk dalam rangkaian kita ibadah umpamanya shalat tarawih. Ini aspek psikomotorik yang harus kita siapkan.

Shalat tarawih, shalat tarawih kita berapa kali rakaat, itu melatih fisik kita, kesehatan seluruh jiwa raga kita itu kita dilatih betul. Kalau sudah biasa sudah melakukannya dengan ikhlas dan ini kita lakukan, insyaallah semua yang kita lakukan akan nikmat. Justru kenikmatan itu akan kita dapatkan.

Dan puncaknya adalah apa? Dari semua yang kita lakukan dalam bulan Ramadan ini, kita mengharapkan rida dari Allah dan kita mencapai ketakwaan. Karena bekal kita dalam ibadah puasa seperti disebutkan di Al-Qur’an: Wa tazawwadu fa inna khaira az-zadi at-taqwa. Dan sebaik-baik bekal itu adalah bekal ketakwaan kita, kehadiran Allah di diri kita, Allah selalu hadir apa pun yang kita lakukan, Allah selalu hadir dan Allah selalu melihat.

Kalau sudah itu ada di diri kita, insyaallah apa yang kita lakukan semuanya enak, dijauhkan dari ujian yang kita dapatkan, nikmat semuanya, kita bersyukur, kita ikhlas, itulah yang akan kita dapatkan ketika kita melakukan kegiatan bulan Ramadan atau berpuasa ini, sudah kita lakukan dengan sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah, apa yang dianjurkan oleh Baginda Rasulullah.

Kita akan mendapatkan puncaknya adalah kenikmatan dalam menjalankan ibadah bulan Ramadan.

Demikian, semoga bisa bermanfaat, dan selamat menjalankan ibadah bulan puasa.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(Tausiyah ini telah tayang di kanal YouTube LTN NU Kota Pekalongan. Silakan klik TAUTAN ini untuk menyaksikan. Semoga bermanfaat)

Tinggalkan Balasan