Ziarah ke Makam KH Amir Idris Jadi Pembuka Rangkaian Hari Santri Nasional 2026 PCNU Kota Pekalongan

Spread the love

PEKALONGAN, nubatik.org – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan menggelar kegiatan ‘Ziarah dan Napak Tilas Ulama Nusantara’ pada Jumat (16/10/2026) sore. Lokasi ziarah adalah makam KH Muhammad Amir bin Idris, atau KH Amir Idris, di Banyurip, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan.

KH Amir Idris merupakan salah satu pendiri NU di Pekalongan. Beliau merupakan Mustasyar pertama PCNU Pekalongan dan satu-satunya Mustasyar NU di Pekalongan pada saat itu.

Kegiatan diikuti jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, Lembaga, Badan Otonom, MWC serta Pengurus Ranting NU di Kota Pekalongan.

Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Pekalongan, sekaligus mewakili Keluarga KH Amir Idris, menjelaskan bahwa KH Amir Idris merupakan salah satu pendiri NU di Pekalongan. Kiai Amir Idris merupakan murid dari Syekh Mahfudz At Turmusi (Kiai Mahfudz Termas). Adapun murid maupun santri dari KH Amir Idris di antaranya adalah KH Ali Maksum Krapyak.

“Beliau (KH Amir Idris) adalah salah satu murid yang sangat mencintai gurunya. Dibuktikan kecintaan itu ketika beliau diimla’ menulis kitab Al-Mawhibah Dhi al-Fadl. Yang halamannya ribuan, ada empat jilid. Beliau menulis telah rampung, ternyata beberapa hari kemudian kitabnya itu hilang. Ternyata, karena kecintaan beliau terhadap gurunya, kemudian beliau dengan segala tenaga pikiran dicurahkan menulis kembali tanpa diimla’. Kalau tidak ada rasa cinta, itu tidak akan mungkin bisa hafal padahal hanya dengan imla’. Karena kecintaan itulah kemudian timbul rasa hikmah yang besar terhadap gurunya hingga beliau bisa hafal empat jilid menulis kembali tanpa diimla’ rampung. Setelah rampung, disowankan ke Kiai Mahfudz. Kiai Mahfudz saat itu bilang kalau kitabnya hilang. Dan ternyata sudah dituliskan ulang oleh Kiai Amir Idris,” kata Kiai Mujib Hidayat.

Dijelaskan bahwa seorang murid harus cinta kepada gurunya. Ketika rasa cinta itu ada di dalam sanubari seorang murid terhadap gurunya, maka yang ada adalah perbuatan-perbuatan baik yang akan mengemuka dalam kesehariannya.

Begitupun di Perkumpulan Nahdlatul Ulama. “Wala imamata illa bitha’atin wa sam’in, illa bisam’in wa tha’ah. Jadi tidak ada perkumpulan tanpa adanya kepemimpinan, dan kepemimpinan itu harus ditaati. Sama halnya wala NU illa bi PBNU, wala PBNU illa bisam’in wa tha’ah.” Ungkapnya.

“NU ndak bisa tegak berdiri tanpa adanya PBNU. Sama halnya NU Kota Pekalongan ndak bisa berdiri, ndak bisa berjalan tanpa adanya PCNU, tanpa adanya Kiai Rais, tanpa adanya Kiai Tanfidz, tanpa adanya pengurus-pengurus yang lain. Maka mestinya, mestinya kita harus bijak di dalam menyikapi apapun yang ada, perkembangan yang ada di NU khususnya karena kita adalah bagian dari jam’iyyah, bagian dari warga Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.

Sementara, Ketua PCNU Kota Pekalongan, Dr. K.H. Moch Machrus Abdullah, Lc., M.Si., menjelaskan ziarah ke muassis NU ini merupakan agenda pembuka rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional 2026. Selain itu, digelar pula lomba kebersihan pondok pesantren. Adapun kick off Peringatan HSN 2026 digelar pada Sabtu siang (17/10/2026) di Gedung Aswaja sekaligus Workshop Musrif-Musrifah TPPS.

Selain itu, Pameran Turats dan Kreasi Santri Kota Pekalongan akan melibatkan ribuan santri serta siswa di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kota Pekalongan.

Pameran Kitab Turots ini rencananya dibuka pada tanggal 20 Oktober di Gedung Aswaja, dengan menampilkan kekayaan literatur klasik seperti Kitab Turats karya Mbah Sholeh Darat, serta berbagai penampilan seni dari pondok pesantren, tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK.

Tinggalkan Balasan