PEKALONGAN, nubatik.org — Keprihatinan para kiai dan sesepuh atas sepinya masjid dan musala dari kehadiran generasi muda menjadi titik tolak digelarnya Night Carnival menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah di Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Senin malam (15/06/2026).
Mengusung tema “nJenggot Jaga Tradisi, Jaga Negeri“, pawai yang digelar Nahdlatul Ulama (NU) bersama badan otonom dan Remaja Masjid ini diikuti perwakilan dari 14 masjid dan musala se-Kelurahan Jenggot.
Pawai bertajuk Suronan ini dimulai dari Masjid Al Husein dan menyusuri Jalan Raya Jenggot, Gang 5, serta Gang 4, sebelum berakhir di Masjid Jami’ Kholiluddin.
Ribuan warga tumpah ruah memadati sepanjang rute untuk menyaksikan arak-arakan yang berlangsung semarak namun tetap khidmat.

Barisan pawai dibuka oleh pembawa bendera dari IPPNU dan Fatayat NU yang melangkah di garis terdepan. Di belakangnya, perwakilan dari masing-masing masjid dan musala tampil dengan aneka kreasi yang memukau penonton sepanjang rute — mulai dari ogoh-ogoh berbentuk Sun Go Kong sang Raja Kera lengkap dengan rombongannya, cosplay pekerja perbaikan jalan, gaun berbahan daur ulang, barongan, hingga dedemit lokal berbalut sentuhan internasional.
Ketua Panitia, M. Hasan Barki, dalam sambutannya sebelum pengumuman pemenang mengungkapkan asal-usul kegiatan ini.
“Pawai Suronan malam ini adalah salah satu permintaan dari kiai dan para orang tua, karena masjid dan musala sudah kelihatan sepi pemudanya,” ujarnya.
Ia mengisahkan, inisiatif ini bermula dari kunjungannya bersama Ketua GP Ansor menemui sang kiai, yang kemudian menitipkan pesan agar tradisi Suronan terus dihidupkan.
“Pak Kiai berpesan, ‘Tolong kegiatan Suronan diadakan terus, masjid dan musalanya biar ada kegiatan, pemuda-pemudanya biar kelihatan.’ Mewakili IPNU, IPPNU, Ansor, dan Remaja Masjid, insyaallah kami akan usahakan agar terus berjalan setiap tahun,” kata Hasan Barki.
Lurah Jenggot, Adi Susetio, A.Md., yang turut hadir menyambut baik penyelenggaraan Night Carnival ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pawai bukan sekadar ajang keramaian.
“Pawai dan karnaval ini bukan sekadar meriah-meriah. Ini adalah wujud syukur dan semangat hijrah kita sebagai umat Islam — bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan, dari perpecahan menuju persatuan,” ujarnya.
Ia juga menitipkan dua pesan kepada seluruh peserta: menjaga kebersihan lingkungan pascaacara dan mempererat kerukunan antarwarga.

Perwakilan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Jenggot, Kiai Musa Jailani, mengapresiasi lancarnya pelaksanaan pawai dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari IPNU, IPPNU, Remaja Masjid, GP Ansor, Banser, hingga segenap banom NU lainnya.
“Semoga tahun mendatang lebih semarak, lebih ramai, lebih tertib, dan tidak meninggalkan nilai-nilai Islamnya,” kata Kiai Musa Jailani.
Ia sekaligus mengucapkan selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H dan mendoakan agar Kelurahan Jenggot beserta warganya — khususnya keluarga besar NU — semakin maju dan semakin erat dalam ukhuwah wathaniyah maupun ukhuwah basyariyah.
Acara ditutup dengan pengumuman pemenang berdasarkan penilaian satu dewan juri yang mencakup tiga aspek penilaian. Musala Al Munawir tampil sebagai juara pertama sekaligus mempertahankan gelar juara bertahannya. Posisi kedua diraih Musala Al Amin, sementara Masjid Al Husein — yang juga menjadi titik start pawai malam itu — menyusul di peringkat ketiga. (naufal)
