Headlines

LTM PCNU Kota Pekalongan Gelar Pelatihan Setting Sound System Masjid, Bekali Takmir Wujudkan Tata Suara yang Nyaman untuk Ibadah

Spread the love

PEKALONGAN, nubatik.org – Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM NU) PCNU Kota Pekalongan menyelenggarakan Pelatihan Setting Sound System Masjid yang diikuti sekitar 40 perwakilan takmir masjid dari seluruh Kota Pekalongan.

Kegiatan yang berlangsung di Lantai 2 Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme pengelolaan masjid, khususnya dalam bidang tata suara yang berperan penting dalam menunjang kenyamanan beribadah dan kegiatan keagamaan.

Ketua LTM NU Kota Pekalongan, Drs. H. RM Firdaus, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kualitas tata suara merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan masjid kepada jamaah.

Oleh karena itu, para pengelola masjid perlu memahami tidak hanya cara mengoperasikan perangkat sound system, tetapi juga prinsip-prinsip dasar instalasi dan pengelolaannya agar menghasilkan kualitas suara yang optimal.

Menghadirkan narasumber Ir. H. Suharjono, M.T., dosen Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Bandung yang akrab disapa Pak Jhon, pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme.

Selain dikenal sebagai akademisi di bidang teknik elektro, Pak Jhon juga merupakan santri dari Almaghfurlah Mbah KH. Ubaidillah Shodaqoh serta telah berpengalaman memberikan pembinaan standar manajemen masjid profesional, khususnya dalam optimalisasi sistem tata suara di lebih dari 100 masjid di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Diskusi selama pelatihan dipandu oleh Ketua LAKPESDAM PCNU Kota Pekalongan, MSH. Habib, yang bertindak sebagai moderator.
Dalam paparannya, Pak Jhon menegaskan bahwa tujuan utama instalasi sound system masjid bukanlah sekadar menghasilkan suara yang keras, melainkan menghadirkan suara terbaik dari perangkat yang tersedia.

“Instalasi perangkat sound system semestinya menghadirkan suara terbaik dari perangkat yang ada. Suara terbaik adalah suara yang membuat ibadah terasa nikmat, membuat tilawah terdengar jelas, dan menjadikan kegiatan tholabul ilmi berlangsung nyaman tanpa mengganggu konsentrasi jamaah,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa terdapat empat modal utama yang harus dipahami dalam melakukan instalasi sound system masjid, yaitu memahami karakteristik sumber suara (speaker), memahami karakteristik ruangan, memahami penjalaran gelombang suara, serta memahami karakteristik penerima gelombang suara atau pendengar.

Peserta juga dibekali pemahaman mengenai karakteristik utama speaker yang meliputi sudut dispersi vertikal, sudut dispersi horizontal, impedansi speaker, hingga daya input maksimum.

Menurutnya, pemilihan dan penempatan speaker yang tepat akan sangat menentukan kualitas distribusi suara di dalam maupun di luar masjid.

Pada sesi berikutnya, Pak Jhon menjelaskan konsep penjalaran gelombang suara. Ia menerangkan bahwa suara merupakan gelombang longitudinal berupa tekanan udara yang dihasilkan oleh getaran membran speaker.

Gelombang suara pada umumnya merambat menurut garis lurus dan akan mengalami pemantulan ketika mengenai bidang-bidang tertentu. Pemahaman terhadap fenomena ini sangat penting untuk meminimalkan gema (echo), pantulan suara, maupun gangguan akustik lainnya yang sering ditemui di lingkungan masjid.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Tidak kurang dari delapan peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan yang berangkat dari pengalaman mereka mengelola sound system di masjid masing-masing.

Beragam persoalan teknis dibahas secara mendalam, mulai dari penyebab mikrofon yang terkadang mengandung arus listrik (nyetrum), cara menghilangkan suara bergema (echo), mengatasi suara pengajian yang memantul dan kembali masuk ke area mihrab sehingga menimbulkan feedback, menentukan arah pemasangan membran speaker yang tepat, hingga merancang konfigurasi speaker yang ideal sesuai dengan bentuk, ukuran, dan karakteristik masing-masing masjid.

Seluruh pertanyaan dijawab secara sistematis oleh narasumber dengan disertai penjelasan teknis dan contoh penerapan di lapangan. Hal tersebut membuat peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tata kelola sound system yang efektif, aman, dan efisien.

Melalui pelatihan ini, LTM NU PCNU Kota Pekalongan berharap para takmir masjid mampu menerapkan standar pengelolaan tata suara yang lebih baik di masjid masing-masing.

Dengan kualitas sound system yang optimal, diharapkan penyampaian adzan, khutbah, kajian, pembelajaran Al-Qur’an, serta berbagai aktivitas ibadah lainnya dapat terdengar lebih jelas, nyaman, dan khusyuk sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan masjid kepada umat. (*)

Penulis: MSH. Habib, LAKPESDAM