Rombongan Lillahi Ta’ala

Spread the love

Menyusuri Jejak Ulama di Tengah Riuh Muktamar NU ke-35

Oleh: MSH. Habib (Ketua Lakpesdam PCNU Kota Pekalongan, 1 September 2026)

Ada perjalanan yang dimulai dengan sebuah agenda. Ada yang dimulai dengan undangan. Namun ada pula perjalanan yang bermula dari sebuah niat. Perjalanan kami dari Kota Pekalongan menuju Jombang, Jawa Timur, dalam rangka ziarah ke makam para muassis Nahdlatul Ulama sekaligus menghadiri Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, bagi saya bukan sekadar perjalanan fisik.

Ia adalah perjalanan untuk mengenang, perjalanan untuk menundukkan kepala di hadapan sejarah. Dan, lebih dari itu, perjalanan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri tentang makna khidmah kepada Nahdlatul Ulama.

Kami kemudian menyebutnya sederhana “Rombongan Lillahi Ta’ala”.

Sepekan sebelum Muktamar NU ke-35, kami duduk melingkar di ruang rapat Gedung Aswaja. Di belakang meja kayu, lengkap dengan kopi, rokok kretek, dan asbak. Suasananya sederhana, seperti rapat-rapat organisasi pada umumnya. Namun pembicaraan kami malam itu memiliki arti tersendiri.

Kami persiapkan perjalanan ziarah ke makam para muassis Nahdlatul Ulama sekaligus “tilik” Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Rute perjalanan dibicarakan. Waktu keberangkatan ditentukan. Tempat-tempat ziarah disusun. Konsumsi dan kebutuhan jamaah dipersiapkan. Semuanya terlihat teknis. Tetapi sesungguhnya, yang sedang kami persiapkan bukan hanya perjalanan sebuah bus.

Kami sedang mempersiapkan perjalanan untuk menyusuri jejak orang-orang yang dahulu menanam benih Nahdlatul Ulama.

Setelah pembahasan teknis selesai, Rais dan Katib Syuriyah berada di depan. Ketua, Wakil Ketua, beserta Sekretaris PCNU Kota Pekalongan berada di sisi kanan. Dari seluruh lembaga, hanya Lakpesdam dan Lesbumi yang diundang dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, dunia maya sedang ramai membicarakan Muktamar. Berbagai desas-desus beredar. Podcast, artikel, potongan percakapan, dan komentar netizen berseliweran di media sosial. Salah satu isu yang cukup ramai adalah kabar mengenai dugaan transaksi bernilai puluhan juta rupiah untuk cap atau stempel dukungan pengurus.

Informasi semacam itu tentu saja tidak mudah diabaikan, namun di tengah riuhnya kabar tersebut, ada sikap dari PCNU Kota Pekalongan yang bagi saya justru membuat dada terasa tegak. Tegak lurus kepada NU. Pilihan itu tidak didasarkan pada transaksi, bukan pula karena pesan WhatsApp atau dering telepon yang membawa kepentingan tertentu.

Pilihan itu didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar yang harus dijaga: “Marwah Organisasi”.

Bagi saya, inilah makna khidmah yang sesungguhnya, sebab apabila pengabdian hanya dihitung dari keuntungan, maka suatu hari kita akan menghitung berapa yang kita dapat dan berapa yang kita keluarkan. Tetapi ketika khidmah diniatkan Lillahi Ta’ala, maka yang menjadi pertimbangan bukan lagi keuntungan pribadi, melainkan amanah yang harus dijaga.

Pukul 21.00 WIB, Kamis malam, 27 Agustus 2026, bus mulai bergerak meninggalkan Kota Pekalongan. Malam Jumat. Para kiai, pengurus, jamaah laki-laki dan perempuan berada dalam satu perjalanan. Ada yang berbincang, ada yang membaca wirid, ada yang tertidur karena lelah, ada yang hanya memandang jalan dari balik kaca jendela.

Namun semuanya membawa satu tujuan yang sama: ”Jombang”.

Kami ingin berziarah kepada para muassis, kami ingin melihat ramainya Muktamar. Kami ingin menyaksikan langsung bagaimana Nahdlatul Ulama berkumpul dalam sebuah perhelatan besar. Tetapi lebih dari itu, kami ingin mengingat kembali bagaimana para ulama dahulu berjuang dan mengapa perjuangan mereka masih memiliki makna hingga hari ini, “ya.. lebih dari 100 tahun”.

Tepat sebelum Subuh, kami tiba di Tebuireng. Di sana bersemayam banyak tokoh besar, dua sosok besar di antaranya adalah: KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Setelah selesai melaksanakan salat Subuh berjamaah, kami berkumpul di depan makam dan membaca tahlil. Lafadz La ilaha illallah menggema, suasana begitu khidmat. Wajah-wajah yang sebelumnya tampak lelah karena perjalanan malam berubah menjadi tenang. Di depan makam para ulama, kami seakan diingatkan bahwa perjalanan Nahdlatul Ulama tidak dibangun dalam satu malam.

Ada ilmu yang diwariskan, ada pesantren yang didirikan, ada perjuangan yang ditempuh, ada perbedaan yang dirawat, ada pengorbanan yang mungkin tidak pernah tercatat secara lengkap dalam buku sejarah. Tetapi semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang NU. Di hadapan makam para ulama, kami merasa kecil, dan mungkin justru dalam keadaan merasa kecil itulah manusia dapat belajar kembali tentang kerendahan hati.

Setelah ziarah, kami sarapan bersama di sekitar parkiran bus, dekat Museum KH Hasyim Asy’ari. Sebuah warung sederhana mendadak dipenuhi puluhan jamaah. Ibu penjual sarapan tampak tersenyum sekaligus panik. Pembeli datang dalam jumlah besar. Pesanan harus dilayani hampir bersamaan. Nasi, lauk, kopi, dan berbagai menu sederhana berpindah dari tangan ke tangan. Tidak ada kemewahan, namun justru di situlah terasa kehangatan perjalanan. Warung kecil di tepi jalan itu menjadi saksi bahwa kami datang ke Jawa Timur membawa satu niat: mengenang dan menghormati para kiai pendiri NU.

Kadang-kadang, sebuah perjalanan justru terasa paling indah ketika kita menikmati hal-hal yang sederhana, sepiring nasi dan telur dadar, segelas teh hangat, senyum seorang pedagang kecil, dan percakapan ringan di antara sesama jamaah.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Denanyar, Jombang. Kami berziarah ke makam KH Bisri Syansuri, salah satu ulama besar dan tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Setelah bus diparkir, para jamaah berjalan menuju makam. Para jamaah laki-laki bersarung berjalan di belakang para kiai yang memimpin rombongan. Di belakangnya, para jamaah perempuan mengikuti Bu Nyai. Langkah kami sederhana, tidak tergesa-gesa, namun terasa menenteramkan. Seolah setiap langkah membawa kami semakin dekat kepada sejarah.

Sesampainya di makam, tahlil kembali menggema. Di kompleks masjid, foto-foto sejarah Nahdlatul Ulama terpajang di dinding, kami memandanginya satu per satu. Foto-foto lama itu seperti membuka jendela menuju masa lalu. Wajah-wajah para ulama, para santri, perjalanan organisasi, perjuangan yang panjang, dari sana kami kembali diingatkan bahwa NU tidak lahir dari kemudahan. NU lahir dari ilmu. Dari pesantren. Dari perjuangan. Dari kesabaran. Dan dari keikhlasan.

Dari Denanyar, perjalanan berlanjut menuju Tambakberas, hanya sekitar sepuluh menit. Tujuan berikutnya adalah makam KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, salah satu tokoh utama Nahdlatul Ulama dan Pahlawan Nasional. Suasana makam begitu sejuk, pohon-pohon menaungi kawasan makam, dahan-dahannya bergerak perlahan diterpa angin.

Suasana terasa syahdu di tempat itu, kembali terdengar dzikir:

La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah. Saya membayangkan bagaimana perjuangan Mbah Wahab dan para ulama pada masa lalu. Mereka menanam sesuatu yang hasilnya tidak selalu dapat mereka lihat. Mereka berjuang untuk generasi yang bahkan belum lahir. Mereka membangun sesuatu yang kelak akan dinikmati oleh jutaan orang. Dan di situlah saya menemukan kembali makna khidmah. Orang yang berkhidmah tidak harus melihat hasil dari perjuangannya. Kadang kita hanya perlu memastikan bahwa apa yang kita tanam hari ini dapat menjadi kebaikan bagi orang lain di masa depan.

Setelah seluruh rangkaian ziarah selesai, kami bergerak menuju arena Muktamar NU ke-35. Suasana begitu ramai. Puluhan ribu manusia berkumpul. Kiai, santri, para pengurus cabang, semuanya berada dalam satu ruang besar bernama Nahdlatul Ulama. Di tengah lautan manusia itu, saya kembali melihat NU bukan hanya sebagai struktur organisasi. NU adalah perjumpaan. NU adalah persaudaraan. NU adalah tradisi. NU adalah pesantren. NU adalah masyarakat. NU adalah hubungan batin antara umat dengan para ulama.

Muktamar menjadi momentum untuk mempertemukan banyak orang dengan latar belakang, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda. Perbedaan tentu ada. Perdebatan tentu terjadi. Namun semuanya semestinya tetap berada dalam satu ikatan: “Ukhuwah”.

Muktamar juga tidak lepas dari kontroversi, media sosial ramai, berbagai informasi beredar begitu cepat, ada yang menyudutkan NU, ada yang mengkritik para kiai, ada yang mempertanyakan keputusan Presidium. Bahkan muncul demonstrasi di arena karena sebagian pihak tidak puas terhadap proses dan keputusan yang berlangsung. Isu mengenai transaksi dalam proses pemilihan juga terus menjadi pembicaraan. Informasi datang seperti angin. Cepat. Berubah. Kadang membawa kesejukan. Kadang membawa kegaduhan. Namun berada langsung di tengah Muktamar memberikan pengalaman yang berbeda. Saya belajar bahwa NU tidak bisa dinilai hanya dari apa yang muncul di media sosial.

NU terlalu besar untuk diringkas menjadi satu video. Terlalu panjang untuk disimpulkan dalam satu artikel. Terlalu dalam untuk diukur hanya melalui komentar. NU adalah sejarah panjang. NU adalah pesantren. NU adalah kiai. NU adalah santri. NU adalah jamaah. NU adalah masyarakat. NU adalah ilmu. NU adalah tradisi. NU adalah kebangsaan. Dan NU adalah jutaan orang yang mungkin tidak pernah menulis komentar di media sosial, tetapi setiap hari menjaga tradisi keagamaan di kampung-kampung, di masjid, di madrasah, di pesantren, dan di tengah masyarakat.

Menjelang kepulangan, kami disambangi oleh Kyai Rois Hasan Suadi dan Kyai Ketua H. Mahrus dengan menaiki becak warga lokal dari arena muktamar menuju parkiran bus rombongan jamaah. Beliau menyempatkan diri untuk menyapa kami dan memberikan pesan-pesan serta doa untuk kami semua.

Ketika akhirnya kami meninggalkan Jombang menuju Pekalongan, saya bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya kami bawa pulang? Bukan piala. Bukan penghargaan. Bukan jabatan. Bukan pula sesuatu yang dapat dihitung dengan angka. Kami membawa pulang lelah. Kami membawa cerita. Kami membawa kenangan. Kami membawa doa. Dan kami membawa sebuah kesadaran baru tentang arti khidmah. Jika kita berkhidmah hanya untuk jabatan, maka kita akan kecewa ketika jabatan itu tidak kita dapatkan. Jika kita berkhidmah karena kepentingan, maka kita akan berhenti ketika kepentingan itu hilang. Tetapi jika kita berkhidmah Lillahi Ta’ala, maka apa pun hasilnya, kita tetap memiliki alasan untuk menjaga. Sebab yang kita pertahankan bukan kepentingan pribadi. Yang kita pertahankan adalah amanah.

Perjalanan ke Jombang membuat saya semakin memahami bahwa bagi sebagian besar warga Nahdlatul Ulama, NU bukan sekadar organisasi.

NU adalah rumah. NU adalah jalan khidmah. NU adalah cara pandang. Dan dengan segala kekurangan kami, “NU adalah cinta yang kami jaga tanpa syarat.”

Jombang–Pekalongan, 2026

Tinggalkan Balasan